Kisah Putri Cheri

Dikisahkan, di suatu istana ada seorang bangsawan dengan putri tunggalnya yang jelita bernama Manuella. Orang-orang biasa memanggilnya Putri Manu. Sejak kecil Manuella tidak memiliki ibu lagi, namun ayahnya sangat menyayanginya. Segala keinginan Manuella selalu dipenuhi, hal ini membuat Manuella menjadi sangat manja. Semua yang ia inginkan harus ia dapatkan, dan ayahnya belum pernah menolak keinginan Manuellal justri selalu segera mengabulkannya.

Salah satu kegemaran Manuella adalah berganti-ganti pakaian, bahkan dalam satu hari ia dapat berganti pakaian empat sampai lima kali. Di kamarnya terdapat enam lemari pakaian yang indah, namun ia belum merasa puas.

Ayahnya tertawa sambil memeluk Manuella dengan penuh kasih sayang, dibelainya rambut anaknya yang berwarna keemasan. Begitulah kehidupan Manuella dari tahun ke tahun.

Pada suatu hari di musim semi, ayahnya berteriak-teriak memanggil Manuella. Seminggu lagi hari ulang tahun Manuella yang ke 17, ayahnya akan mengadakan pesta besar untuknya. Anak-anak bangsawan dari berbagai negeri akan diundangnya, mendengar hal itu Manuella menari-nari gembira. Ia ingin memakai gaun terindah, dan ayahnya akan mendatangkan para penjual kain serta memanggil penjahit terkenal untuk merancang gaun yang terindah.

Keesokan harinya datanglah para penjual kain dari berbagai negara, mereka membawa kain-kain yang terindah. Manuella pun gembira. Setelah memilih-milih, ia menemukan selembar kain sutera putih, seputih salju. Sangat halus dan indah luar biasa. Seorang penjahit yang terkenal segera merancang, mengukur dan menjahit gaun yang sesuai dengan keinginan Manuella. Manuella sangat puas melihat gaun barunya. Segera dikenakannya gaun itu, lalu menari-nari di depan kaca.

Manuella meneliti apa lagi yang kurang pada penampilannya, tiba-tiba ia sadar tidak ada hiasan di kepalanya. Ia pun segera mencari ayahnya, dan meminta hiasan untuk kepalanya. Ayahnya pun menawarkan mahkota yang dia miliki termasuk mahkota mutiara milik ibunya, namun Manuella menolaknya.

Manuella tidak mau mendengar ayahnya, ia berlari ke halaman yang dipenuhi dengan pohon-pohon cheri, dimana bunga-bunganya yang putih bersih memenuhi setiap ranting-rantingnya, sehingga cabang dan rantingnya yang berwarna cokelat hampir tidak terlihat lagi.

Manuella berlari dari satu pohon ke pohon yang lain, dan tiba-tiba ia berpikir ingin merangkainya menjadi mahkota. Saat tangannya akan meraih sebuah bunga, terdengarlah suara yang halus. Bahwa dia akan menjadi bunga jika memetik bunga-bunga itu.

Manuella menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi ia tidak melihat seorang pun. Ia berlari ke sebuah pohon yang lain, dan ketika ia akan memetik bunganya, terdengar lagi suara yang sama.

Dengan penuh kejengkelan berteriaklah Manuella sambil memandang pohon itu, tidak ada seorang pun di negeri ini yang dapat melarangknya dan semua orang di negeri ini tahu, segala keinginannya harus terpenuhi.

Tiba-tiba bertiuplah angin dan bersamaan dengan itu terdengarlah suara yang halus. “Dengar Manuella, tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa mendapatkan segala yang diinginkannya. Tidak juga kau…”

Saat tangan Manuella menyentuh sebuah bunga, berubahlah ia menjadi bunga, di antara bunga-bunga cheri yang lain yang ada di pohon itu. Ia menangis menyesali segalanya, tapi sudah terlambat. Ia melihat tamu-tamu berdatangan. Ia mendengar suara tawa tamu-tamunya, tapi ia tak dapat ikut serta. Ia menangis dan menjerit-jerit, tapi tidak seorang pun mendengarnya.

Hari semakin sore, lampu-lampu di seluruh puri dinyalakan, musik mulai diputar dan seluruh tamu yang diundang telah datang. Ayahnya bingung mencari Manuella diseluruh puri, kemudian ia bersama para pelayan mencari Manuella diseluruh halaman sambil berteriak.

Manuella dapat mendengar suara ayahnya dan para pelayan yang berteriak-teriak memanggilnya. Saat ia melihat ayahnya berdiri tepat di bawahnya, ia berusaha berteriak sekuat tenaga, tapi ayahnya tidak dapat mendengar suaranya dan ia mulai menangis, air matanya menetes dan jatuh ke kepala ayahnya. Manuella melihat bagaimana ayahnya mengusap air yang menetes di kepalanya, dan bergumam perlahan.

Dengan menundukkan kepala ia kembali ke puri dan menyuruh seluruh pelayannya kembali, karena dipikirnya sebentar lagi akan turun hujan.

Setelah tamu terakhir meninggalkan puri, dan musik dihentikan, sang ayah diam termangu di depan jendela. Lampu-lampu puri dibiarkan menyala semua, karena ia berpikir anaknya akan kembali dan ia akan dapat dengan mudah melihat jalan menuju puri.

Tiba-tiba bertiuplah angin yang membawa sura jerit Manuella, lalu ia segera membangunkan para pelayan untuk mencari Manuella di sekitar puri dan di seluruh halaman sekali lagi. Mereka mencari Manuella setapak demi setapak, tapi sampai pagi Manuella tidak pernah ditemukan kembali.

Sang ayah telah putus asa, dan ia berhari-hari hanya duduk di depan jendela, menanti angin datang yang kadang-kadang membawa jeritan anak tercintanya. Ia yakin itu suara anaknya, namun ia tidak pernah tahu dari mana suara itu sampai akhir hayatnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *